Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari medium
secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dalam proses pembelajaran
terdapat proses komunikasi yang berlangsung dalam suatu sistem. di dalamnya terdapat media pembelajaran
sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran tersebut. Menggunakan media
dalam proses pembelajaran harus didasarkan filosofi atau alasan teoritis yang
benar.
Terkait dengan
pembelajaran, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat
merangsang pikiran, perasaan dan perhatian anak didik untuk tercapainya tujuan
pendidikan. Heinich, Molenda, dan Russell (1993) mendefinisikan media sebagai
alat saluran komunikasi. Istilah media itu sendiri berasal dari bahasa Latin
dan merupakan bentuk jamak dari kata "medium" yang secara harfiah
berarti "perantara" yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan
penerima pesan (a receiver). Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat proses belajar
mengajar yang pada dasarnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses
komunikasi tersebut, agar pembelajaransiswa dapat belajar secara efektif dan efisien, guru
perlu menggunakan media untuk merangsang siswa dalam belajar. Jadi pada
prinsipnya media bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran.
Sebelumnya, agar
interaksi belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien perlu digunakan
media yang tepat. Ketepatan yang dimaksud tergantung pada tujuan pembelajaran,
pesan (isi) pembelajaran dan karakteristik siswa yang terlibat dalam kegiatan
pembelajaran. Pada bagian ini akan dikaji lebih dalam mengapa butir-butir ini
yang dijadikan kriteria dalam menetapkan ketepatan penggunaan suatu media
pembelajaran. Dalam konteks ini, kita akan menggunakan 4 sudut tinjauan, yaitu:
tinjauan psikologis, teknologis, empirik, dan filosofis.
1.
Landasan Psikologis.
Belajar adalah
proses yang kompleks dan unik; artinya, sesorang yang belajar melibatkan segala
aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari semua aspek
kepribadian ini akan nampak dari perilaku belajar orang itu. Perilaku belajar
yang nampak adalah unik; artinya perilaku itu hanya terjadi pada orang itu dan
tidak pada orang lain. Setiap orang memunculkan perilaku belajar yang berbeda.
Keunikan perilaku
belajar ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik yang menentukan
perilaku belajar, seperti: gaya belajar (visual vs auditif), gaya kognitif
(field independent vs field dependent), bakat, minat, tingkat kecerdasan,
kematangan intelektual, dan lainnya yang bisa diacukan pada karakteristik
individual siswa. Perilaku belajar siswa yang kompleks dan unik ini menuntut
layanan dan perlakuan pembelajaran yang kompleks dan unik pula untuk setiap
siswa. Komponen pembelajaran yang bertanggungjawab untuk menangani masalah ini
adalah strategi penyampaian pembelajaran, lebih khusus lagi media pembelajaran.
Strategi (media)
pembelajaran haruslah dipilih sesuai dengan karakteristik individual siswa. Ia
sedapat mungkin harus memberikan layanan pada setiap siswa sesuai dengan
karakteristik belajarnya. Umpamanya, siswa yang memiliki gaya belajar visual
harus mendapatkan rangsangan belajar visual, seperti halnya siswa yang memiliki
gaya auditif harus mendapatkan rangsangan belajar auditif. Perubahan perilaku
sebagai akibat dari belajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 aspek, yaitu:
kognitif, sikap, dan keterampilan. Setiap aspek menuntut penggunaan media
pembelajaran yang berbeda. Artinya, belajar kognitif memerlukan media yang
berbeda dibandingkan siswa yang belajar aspek lainnya. Atas dasar ini,
diperlukan strategi penyampaian yang menggunakan multimedia untuk memenuhi
tuntutan belajar aspek yang berbeda-beda.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan
akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan
dengan kontinum konkritabstrak dan kaitannya dengan penggunaan media
pembelajaran, ada beberapa pendapat. Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa
dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan
gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar
dengan simbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut
Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang
dewasa. Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media
terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat
jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa
yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai
pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian
yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang
disajikan dengan simbol.
2.
Landasan Teknologis.
Sasaran akhir dari
teknologi pembelajaran adalah memudahkan belajar siswa. Untuk mencapai sasaran
akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai
sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa sesuai dengan
karakteristiknya. Dalam upaya itu, teknologi bekerja mulai dari pengembangan
dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui
penelitian ilmiah dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi, evaluasi
dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan
layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunannya dan akhirnya
menggunakannya baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi
(diseminasi). Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak
pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya
bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan
yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu.
Dengan demikian,
proses belajar setiap siswa akan amat dimudahkan dengan hadirnya media
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya. Jadi, dalam kaitannya dengan
teknologi, media pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang
melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis
masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola
pemecahan masalah h-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu
mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan
masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponenkomponen sistem pembelajaran
yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan
serta dikombinasikan sehingga menjadi sistem pembelajaran yang lengkap.
Komponen-komponen tersebut meliputi pesan, orang,bahan, media, peralatan,
teknik, dan latar.
3.
Landasan Empirik.
Berbagai temuan
penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi anatara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia
belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Siswa
yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mendapatkan keuntungan dari
menggunakan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram. Sedangkan
siswa yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari
penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman suara , radio atau
ceramah dari guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari
kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan
landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya
jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian
antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan
karakteristik media itu sendiri. Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis
media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik
individual siswa menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media
hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenanangan pengajar, tetapi
dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik siswa, disamping
kriteria lain yang telah disebutkan sebelumnya.
4.
Landasan filosofis.
Ada suatu pandangan,
bahwa dengan digunakannya berbaga jenis media hasil teknologi baru di dalam
kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata
lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi.
Benarkah pendapat tersebut? Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran
justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang lebih
sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain, siswa dihargai harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya.
Dengan demikian,
penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat
tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap
siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak
manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan
pribadi yang berbeda dengan yang lain, ma aka baik menggunakan media hasil
teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap
menggunakan pendekatan humanis.
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik
perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran
yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa
Dalam penggunaan media diharapkan siswa mampu memahami materi lebih baik dari pada tidak menggunakan media. Kriteria media yang bagaimanakah yang di butuhkan agar media yang digunakan sesuai dengan yang diharapkan?
ReplyDeleteMenurut Soeparno (1987: 10-11) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih media pengajaran yaitu:
Delete1. Hendaklah kita mengerti karakteristik setiap media, sehingga kita dapat mengetahui kesesuaian media tersebut dengan pesan atau informasi yang akan dikomunikasikan.
2. Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan tujuan yang hendak kita capai.
3.Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan metode yang kita gunakan.
4. Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan materi yang akan dikomunikasikan.
5. Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan keadaan siswa, baik ditinjau dari segi jumlahnya, usianya, maupun tingkat pendidikannya.
6. Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat media itu kita pergunakan.
7. Hendaklah kita memilih media yang sesuai dengan kreativitas kita, sebab ada beberapa media tertentu yang efektivitas penggunaannya sangat bergantung kepada kreativitas guru.
8. Janganlah kita menggunakan media tertentu dengan alasan bahwa media tersebut merupakan barang baru atau karena media tersebut merupakan satu-satunya media yang kita miliki.
Media salah satu bagian terpenting dalam pembelajaran.Komunikasi yang dilakukan tidak hanya dua arah(guru-siswa) saja,tetapi komunikasi siswa dengan siswa yang lain dapat terjalin dengan baik. Sebagai sarana komunikasi ,media pembelajaran sebaiknya juga memperhatikan aspek-aspek cooperative untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan kerja sama siswa dalam proses pembelajaran.
ReplyDeleteBagaimana mengatasi keterbatasan pengajar dalam penggunaan media elektronik dalam sistem pembelajaran?
ReplyDeleteBagaimana seseorang guru harus menyiapkan psikologis siswa yang beragam dalam proses belajar matematika, sehingga siswa siap belajar matematka, meskipun siswa tersebut tidak menyukai pelajaran matematika.
ReplyDeleteMinta penjelasan nya tentang multimedia pembelajaran. uraian di atas tentang media pembelajaran. Atau minta penjelasan nya apa perbedaan media dengan multimedia pembelajaran
ReplyDelete