Pendidikan
sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan
sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan
erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya kesejahteraan
kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology) perkembangan
dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan
konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu
untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih
dilakukan secara konvensional.
Teknologi merupakan segala suatu
hasil budaya (daya kreasi dan inovasi) manusia yang dapat mempermudah proses
kehidupan manusia. Informasi secara mendasar berarti data yang bermanfaat bagi
pihak yang membutuhkannya sedangkan data ialah Suatu bentuk fakta atau
pengamatan yang mewakili / menggambarkan keadaan obyek. Obyek dapat berupa
tempat, orang, benda, dll. Data dinyatakan dengan nilai (angka, deretan
karakter, atau simbol) tetapi yang universal adalah yang berupa angka dan data
dapat juga berupa hal-hal yang sulit terukur; misal sifat, kondisi, situasi,
ide, dll. Informasi merupakan data yang telah diorganisasikan kedalam bentuk
yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Jadi, yang dimaksud dengan Teknologi
Informasi (TI) ialah segala sesuatu budaya (daya kreasi dan inovasi) manusia
yang membantu menghasilkan, memanipulasi, menyimpan, pengelolaan dan
menyampaikan infomasi.
Pada masa lalu Teknologi Informasi
yang digunakan berupa goresan/gambar, arsip, telegraf, dan lain – lain. Pada
masa kini Teknologi Informasi yang digunakan antara lain berupa komputer, faks,
telekonferensi. Tujuan Teknologi Informasi adalah:Memecahkan masalah, membuka
kreativitas, efektivitas dan efisiensi Fungsi Teknologi Informasi 1.Menangkap
(Capture), 2.Memproses(Processing), 3.Menghasilkan (Generating), 4.Menyimpan
(Storage), 5.Mencari Kembali (Retrieval), 6.MelakukanTransmisi(Transmission).
Keuntungan Teknologi Informasi : speed,Consistency, Precision, Reliability
Teknologi Informasi bermanfaat dalam Berbagai Bidang antara lain; Akuntansi,
Finance, Marketing, Produksi atau Manajemen Produksi, Manajemen Sumber Daya
Manusia.
Perkembangan
di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan
berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala
aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara
berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa
agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa
menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek
kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira
usaha. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan
memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan
menggunakannya secara efektif. Selain dampak positif, siswa mampu memahami
dampak negatif, dan keterbatasan TIK, serta mampu memanfaatkan TIK untuk
mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini
semakin banyak situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster,
dan myspace yang membuat komunikasi dan saling bertukar informasi
semakin mudah. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di
internet seperti wordpress, blogspot, livejurnal, dan multiply. Hal
ini membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi
saja, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang
kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul
kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan
yang kita buat. Namun sayangnya, kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi
budaya masyarakat Indonesia, termasuk guru dan siswa di sekolah. Para guru TIK
dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan TIK untuk mengembangkan
kreativitas menulis.
A. TIK dan Pedaogogi dalam
Pembelajaran
Beberapa
pertimbangan dapat dijelaskan bahwa, pertama, TIK mengembangkan pemahaman
secara cepat dan otomatis fungsi-fungsi TIK dapat membantu guru dalam
mendemonstrasikan, mengeksplorasi atau menjelaskan aspek-aspek pembelajaran
siswa secara efektif. Misalnya, Siswa menggunakan software microsoft excell
untuk menghitung data (menjumlahkan, mengurangi, membagi dan mengalikan) serta
mengelompokan data-data. Selanjutnya data yang ada dibuat dalam bentuk grafik.
Disamping
itu, TIK dapat membantu dalam mengeksplorasi atau mebuat model dan simulasi.
Model tersebut diharapkan dapat membantu pemahaman dari konsep-konsep yang sulit
dan abstrak. Misalnya, program animasi ikatan hidrogen yang terdapat dalam
rumus molekul ai
Konsep
ikatan hidrogen memang abstrak dan sulit untuk diamati dengan kasat mata.
Melalui pemodelan dengan menggunakan Chemoffice molekul air dapat digambar dua
dimensi maupun tiga dimensi. Melalui program Macromedia, molekul air dapat
dibuat animasi. Dengan model itu, atom yang berikatan dapat divisualisasikan
Kedua:
memperluas akses ke sumber informasi. Jangkauan dan kapasitas TIK dapat
membantu guru dan siswa untuk mengakses informasi dengan mudah dan cepat untuk
keperluan belajar. Misalnya, dengan menggunakan akses internet melalui
www.google.com dengan mudah diperoleh informasi yang relevan dengan materi yang
dipelajari. Dengan mengetik kata kunci melalui situs yang tersedia maka yang
dicari akan secepatnya diperoleh informasinya
Ketiga,
TIK dapat membantu siswa dalam memperoleh ketrampilan “inquiry”: TIK memberi
fasilitas melalui akses internet peserta belajar dan dapat memperoleh informasi
dari berbagai sumber yang tersedia dengan mudah dan cepat. Peserta belajar
dapat membandingkan, memilih, menganalisis dan memutuskan dari informasi yang
diperoleh sesuai yang dibutuhkan.
Model
penggunaan TIK dalam pembelajaran yakni TIK untuk mendukung proses pembelajaran
yang sedang berlangsung. Contohnya, latihan serta mengeja dll. TIK dapat
meningkatakan proses pembelajaran pada peserta belajar tertentu disamping itu
memperluas strategi pembelajaran di dalam kelas.
Beberapa
faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan oleh guru dalam memanfaatkan TIK dalam
pembelajaran misalnya: (a) guru dapat mengidentifikasi bagaimana TIK yang akan
digunakan sesuai dengan tujuan khusus dari rumusan pembelajarannya sehingga
dapat meningkatkan pemahaman siswa. (b) guru percaya bahwa siswa memiliki
ketrampilan TIK yang memadai untuk mencapai tujuan khusus dari materi yang
dipelajari, (c) guru merencanakan secara tepat dan cermat aspek pedagogi dari
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai siswa.
B. Pergeseran Pola Pembelajaran
Dalam
rangka mewujudkan pola pembelajaran berbasis TIK, perubahan pola pembelaran
sangat dibutuhkan. Paradigma yang berkembang dewasa ini adalah perubahan pola
pengajaran menjadi pembelajaran dengan pendekatan konstruktif. Dengan
menggunakan model ini diharapkan interaksi sosial, membangun dan mengorganisasi
dari pengetahuan yang dipelajari dapat berkembang secara eksploratif. Brunner
adalah merupakan tokoh dari model konstruktif. Dengan polapola yang diajarkan
diharapkan siswa dapat belajar secara mandiri.
Dasar
filosofis konstruktivisme menyangkut: (a) pengetahuan yang dibangun didasarkan
pada diskusi kelompok, (b) siswa dapat menemukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang disajikan melalui diskusi kelompok, (c) siswa dapat
membangun konsep-konsep pengetahuan secara mandiri, (d) kecenderungan dalam
proses pembelajarannya menuju proses inquiry, (e) siswa secara otentik dan
terintegrasi dalam mengerjakan tugasnya.
Peran
guru yang diharapkan dalam proses pembelajaran harus dirubah dengan menekankan
kepada pembelajaran yang terpusat kepada siswa. Guru yang semula bertugas
mengajar menjadi fasilisator, motivator dan sekaligus moderator. Untuk lebih
kongkrit memahami konsep ini, lihat penjelasan konsep integrasi TIK dalam
pembelajaran.
Makna
yang lebih luas bahwa guru sebagai fasilisator diantaranya, (a) guru
menampilkan model pembelajaran bermakna, (b) guru menggunakan strategi
pembelajaran yang sesuai, (c) guru menyediakan pertanyaan yang relevan untuk
mendapatkan umpan balik dan (d) apa yang disajikan singkron antara kurikulum,
pedagogi dan evaluasi yang digunakan. Pada akhirnya siswa dapat bekerjasama dan
memiliki ketrampilan sosial serta sesuai dengan kebutuhan belajar.
Selanjutnya,
model pembelajaran yang terpusat pada siswa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Pembelajaran
berlansung secara terkontrol 2. Meminimalkan hambatan-hambatan yang mungkin ada
3. Siswa mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan
4. Model pembelaran ini memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada siswa 5.
Siswa memiliki tanggungjawab dan secara aktif apa yang dipelajari
Secara
skematis model pembelajaran terfokus pada siswa hendaknya dapat (a)
mengkonstruksi pengetahuan yang didasarkan kepada pengalaman belajarar siswa,
(b) berperan aktif dan inisiatif dalam proses pembelajaran, (c) guru memilih
strategi belajar yang tepat.
Pemilihan
strategi yang tepat serta sumber belajar yang memadai diharapkan dapat
dijadikan pola yang menarik bagi siswa dan guru. Kolaborasi pembelajaran dapat
terbangun dengan adanya model yang tepat.
Menurut
Department of Education in Queenlands, Australia (2004) aturan main dalam
memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang terkait dengan
aspek pedagogisnya. Pertama, meningkatkan higher-order thinking skill (HOTS)
dengan kerangka kerja yang ada. HOTS meminta siswa untuk memanipulasi informasi
dan gagasan-gagasan dalam hal transformasi dari makna dan implikasi dari bahan
yang dipelajari. Proses transformasi terjadi tatkala siswa dapat
mengkombinasikan fakta-fakta dan gagasan-gagasan untuk dapat mensintesa,
generalisasi, menjelaskan, hipotesa hingga menarik suatu kesimpulan serta
interpretasinya
Untuk
mempermudah pemahaman tentang keterkaitan pedagogi dan TIK dalam pembelajaran
Avrill et al (2001) mengelompokkan model pedagogi lama dan pedagogi baru. Sebenarnya,
lama dan baru hanyalah istilah saja. Yang lebih penting adalah perubahan pola
pembelajarnnya.
Pedagogi lama Tahu banyak materi yang ada di buku
dan guru banyak menjelaskan Pedagogi baru Menggunakan strategi apa yang harus
diketahui dan harus disimpan, tidak
semua informasi harus dipelajari. Pedagogi lama Guru memberi pelajaran dari pengetahuannya
kepada siswa. Pedagogi baru Guru membantu siswa dalam memperoleh,
menyeleksi, mengorganisasi
dan menyimpan informasi dari berbagai
sumber. Pedagogi lama Buku dan jurnal sebagai sumber informasi. Pedagogi baru Tersedia jurnal online dan buku online. Pedagogi lama Siswa yang tidak menggunakan TIK
dan tidak memiliki fasilitas sebagai
alat bantunya. Pedagogi baru Siswa menggunakan teknologi sedini
mungkin dan sesering mungkin dan
mendiskusikan strategi untuk
Jelaslah bahwa terjadi pergesan peran guru dalam pembelajaran.
Memanipulasi informasi dan gagasan-gagasan dalam suatu proses yang dapat
memfasilitasi siswa untuk memecahkan masalah dan menemukan hal-hal yang baru
dalam hal makna dan pemahaman dari persoalan yang dihadapi. Dalam membantu
siswa menproduksi suatu pengetahuan guru hendaknya menumbuhkan aktivitas
lingkungan yang baru yang memberi kesempatan siswa untuk mencapai HOTS.
Misalnya,
siswa SMA kelas tiga belajar kimia pada topik polimer. Dalam topik itu, siswa
diminta untuk membedakan polimer sistetis dan polimer alam, membandingkan
sifat-sifatnya, menuliskan proses reaksi terjadinya proses polimerisasi dan
melakukan perhitungan-perhitungan. Selanjutnya, siswa diminta untuk
menganalisis pencemaran air akibat adanya senyawa polimer yang larut di
perairan. Siswa diminta untuk memecahkan persoalan tersebut dalam kelompok yang
ditentukan kelompoknya oleh siswa sendiri
Selanjutnya,
tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dalam bentuk Power Point
melalui perwakilan tentang materi yang dipelajarinya. Diskusi berlangsung
dengan menetapkan masing-masing kelompok untuk saling menanyakan sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Tujuan diskusi adalah siswa dengan mudah dalam memberi
alasan-alasan dalam menjawab persoalan yang dihadapi. Guru selanjutnya memberi
komentar-komentar terkait dengan materi polimer yang dipelajari secara keseluruhan
serta memberi kesimpulan.
Kedua,
pemahaman secara mendalam (deep knowledge) yang terkait dengan gagasan-gagasan
dari topik pembelajaran yang dipelajari, berpikir kritis dan metabahasa.
Pemahaman secara mendalam dimaksudkan terjadinya hubungan yang kompleks dari
konsep-konsep yang dipelajarinya
Misalnya,
siswa mempelajari tentang pencemaran air sungai. Siswa secara mendalam
mempelajari tentang ekosistem air termasuk mengklasifikasikan ekosistem air,
kualitas air, monitoring dan dampaknya air tesebut terhadap ekosistem yang ada.
Siswa diminta untuk menerapkan konsep pemahaman secara mendalam tentang kondisi
ekosistem air sungai. Kreativitas siswa sangat bergantung kepada pengetahuan
terhadap topik yang dipelajari.
C. Paradigma Pembelajaran
Berbasis TIK
Terdapat
perbedaan pandangan tentang belajar menurut aliran behaviorisme dan
konstruktivisme yaitu dalam aliran behaviorisme, belajar adalah proses
perolehan pengetahuan, dan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang
yang belajar. Salah satu teori yang menganut aliran ini adalah teori pemrosesan
informasi dari Robert Gagne yang menyatakan bahwa dalam belajar seseorang akan
berubah karena sesuatu yang dialaminya.
Dalam
pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi/ pemrosesan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi internal dan
kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu
yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar. Adapun kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran. Oleh karenanya, guru perlu merencanakan kegiatan pembelajaran
dengan menciptakan suasana dan gaya belajar yang mendukung siswa (Gagne, 1984).
Sementara menurut Soekamto (1986) disebutkan
B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi
langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui
proses operant conditioning.
Gaya
mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan
dikontrol guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise). Manajemen
kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior
modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi
penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada
perilaku yang tidak tepat.
Operant
conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku
operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku
tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Dalam
teori ini tidak dikenal hukuman yang bersifat fisik. Pembelajaran berbasis web
ternyata dapat memfasilitasi hal ini.
Menurut
Leung et al. (2005) pembelajaran terintegrasi TIK dapat diterapkan guru pada
berbagai bidang seperti psikologi, kimia, komputer, matematika, dan bahasa.
Jika dikaitkan dengan teori belajar sosial oleh Bandura yang memuat empat hal
yaitu penilaian, pengalaman penting, ajakan verbal, dan membangkitkan emosional
yang berkaitan dengan motivasi maka integrasi TIK dalam pembelajaran adalah
upaya yang tepat. Sementara itu teori Roger yang dikemukakan pada tahun 1995
mengemukakan hal yang sama, intinya kedua teori ini menitikberatkan kerangka
kerja pembelajaran yang akhirnya akan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Teori-teori di atas jika dikaitkan dengan pembelajaran berbasis web yang
berorientasi pada kemandirian siswa dan hasil belajar berupa tugas yang
dikirimkan siswa segera mendapatkan umpan balik dari web merupakan salah satu
prinsip belajar Skinner.
Pembelajaran
berbasis web tidak bersifat menghukum karena pada teori ini pendidik lebih
menekankan proses belajar ketimbang hasil belajar yang baru. Hal itu didukung
dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik (kolaboratif) sehingga
dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan dan membangkitkan motivasi
karena pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa.
Di pihak lain, aliran konstruktivisme
beranggapan bahwa belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman konkret,
aktivitas kolaborasi, refleksi, dan interpretasi. Dalam hal ini mengajar adalah
menata lingkungan agar si pebelajar termotivasi dalam menggali dan menghargai pengetahuan yang merupakan konstruksi atau
bentukan diri sendiri. Menurut Dahar (1988), teori belajar yang menganut paham
ini adalah Ausubel yang berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan
potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna.
Upaya
mencapai hal ini dilakukan pada aktivitas belajar berpusat pada siswa. Hasil
belajar akan bermanfaat karena siswa banyak dilibatkan dalam kegiatan secara
langsung termasuk bagaimana saling berkolaborasi sehingga menemukan jawaban
terhadap permasalahan yang dihadapinya. Selanjutnya siswa menghubungkan atau
mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya. Jadi inti
dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan
hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru
dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur
kognisi siswa.
Teori
lain menurut Carl Rogers yang membedakan dua tipe belajar yaitu belajar
kognitif (bermakna) dan belajar eksperimental (pengalaman). Menurut Rogers
dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip bahwa
siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
Adapun
teori Bruner mencetuskan bahwa belajar merupakan pencarian yang aktif terhadap
pengetahuan yang dilakukan seseorang dalam memecahkan masalah sehingga
menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Teori Bruner juga
menyarankan agar siswa belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep
dan prinsip yang memberi kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman
misalnya dengan melakukan eksperimen.
Permasalahn disini
1. Bagaimana cara batasan penggunaan ict yg baik agar tidak melewati batas batas hukum yang berlaku
2. Bagaimana memotivasi peserta didik terhadap ict yg akan kita ajarkan sehingga pembelajaran peserta didik semakin berkembang?
Permasalahn disini
1. Bagaimana cara batasan penggunaan ict yg baik agar tidak melewati batas batas hukum yang berlaku
2. Bagaimana memotivasi peserta didik terhadap ict yg akan kita ajarkan sehingga pembelajaran peserta didik semakin berkembang?
Cara memotivasi, bahwa pembelajaran dg pemanfaatan ICT akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, efektif, dan diberikan kemudahan dalam mempelajari sebuah materi
ReplyDelete